Surau TV

Banner

Harga Cabai Merah Anjlok

Image
Tuesday, 28 February 2017 | 18:15:22 WIB


Medan-Harga cabai merah sejak tanggal 22 Februari lalu mengalami penurunan yang sangat tajam. Setelah sempat bertahan di kisaran harga Rp30 ribu per kg, harga bumbu dapur ini dijual dikisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Harga tersebut harga yang diterima oleh konsumen akhir.

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin mengungkapkan, sebelumnya harga cabai merah sempat meroket hingga ke Rp100 ribu per kg dan mengakibatkan Sumut mengalami tekanan inflasi yang cukup signifikan. Kontribusi kenaikan harga cabai tersebut terhadap inflasi sebesar 4 persen yang mengakibatkan laju tekanan inflasi melewati batas atas 5,5 persen seperti yang ditargetkan Bank Indonesia selama ini.

“Sekarang kondisinya berbeda, cabai turun sangat tajam. Lagi-lagi, ini menunjukan bahwa pemerintah kita belum memiliki kontrol yang tepat untuk menjaga stabilitas harga di masyarakat. Kalau harganya naik tentunya konsumen yang dirugikan. Pada saat sekarang harganya terpuruk, ya jelas petani yang akan dirugikan,” sebut Gunawan, Minggu (26/2).

Menurutnya, melihat fenomena harga cabai sekarang ini, Sumut seperti tidak memiliki kekuatan untuk mengontrolnya. Padahal, dengan turunnya harga cabai merah belakangan ini, seharusnya bisa mengupayakan agar harga tidak turun terlalu dalam.

“Pemerintah harus turun tangan untuk menstabilkan harga di pasaran, jangan sampai melemah tidak terukur seperti ini. Karena, masyarakat Sumut bukanlah hanya konsumennya saja lantaran petani kita juga masyarakat. Petani membutuhkan kestabilan harga agar daya beli masyarakat kita tetap terjaga. Bukan seperti yang terjadi seperti saat ini,” cetus praktisi ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut ini.

Kata Gunawan, kondisi yang terjadi pada harga cabai merai tersebut, menggambarkan pasar mengendalikan sepenuhnya harga di tingkat masyarakat. Hal ini seakan pemerintah tidak hadir untuk menstabilkannya.

Padahal, sambung Gunawan, disaat harga anjlok seperti sekarang, bisa menyimpannya untuk diawetkan agar disaat terjadi kenaikan harga bisa digunakan untuk meredamnya. Selain itu, bisa memanfaatkan manajemen pasokan (gudang) untuk melindungi daya beli petani yang rentan terpuruk saat harga komoditasnya anjlok.

“Yang dibutuhkan itu adalah kestabilan harga, bukan naik turun dengan membentuk volatilitas yang sangat lebar seperti yang terjadi sekarang. Ditambah dengan rantai distribusi yang panjang serta tidak efisien,” ujarnya.

Dia menamahkan, dengan harga Rp15 ribu per kg, maka berapa harga yang didapat di tingkat petani. “Jangan-jangan, tidak lebih dari Rp5 ribu hingga Rp7 ribu per kg. Nah, terus siapa yang peduli terhadap nasib mereka,” paparnya.

Sementara, salah seorang ibu rumah tangga, Nur, penduduk Jalan Jamin Ginting, Medan Johor, mengakui harga cabai merah telah turun drastis. Menurut dia, penurunan harga tersebut dipengaruhi lantaran stok yang sudah membaik.

“Cabai sekarang sudah murah, harganya sudah turun drastis. Saya beli sekilo Rp16 ribu di Pasar Simpang Limun,” tuturnya. (sumutpos)

Sumber :

Laporan :

Editor : 0

loading...